Dapatkah kita menjadi ikan?
Terkadang kita dihadapkan dengan sesuatu hal yang memaksa kita tuk melakukan penyesuaian dengan lingkungan setempat minimal dengan karakteristik orang yang ada di tempat itu. Karena tanpa penyesuaian itu, kita tak akan merasa nyaman dengan lingkungan yang ada di tersebut. Sebaliknya dengan penyesuaian itu, kita merasa nyaman dengan lingkungan sekitar, kita mendapat dukungan yang dapat membuat kita kuat dan membantu kita menyelesaikan masalah yang ada. Kenyamanan-kenyamanan itu kita dapatkan dengan cara penyesuaian yang kita telah kita lakukan tadi, penyesuaian dengan kondisi dominant yang ada di lingkungan tersebut atau yang biasa disebut dengan “main stream”. Namun situasi tersebut terkadang sangat melenakan bahkan menghanyutkan karena sifat dasar orang akan sangat sulit keluar dari “zona kenyamanan” tersebut. Akibat yang paling fatal dari hanyutnya kita dengan lingkungan tersebut adalah hilangnya kepribadian asli dari diri kita. Dalam buku “Kebohongan yang Kita Ceritakan kepada Diri Sendiri”, telah dijabarkan kondisi tersebut.
Orang yang percaya kepada kebohongan ini pada dasarnya berkata kepada diri sendiri, ”Sungguh penting bahwa semua orang dengan siapa aku berhubungan menyukai/menerima/mendukung/mengasihi/mengganggapku istimewa, kalau tidak, hidupku tidak ada gunanya”.Orang-orang seperti ini menjadi bunglon social dalam arti mereka sering mengubah “warna” agar sesuai dengan “medan” antar pribadi di mana mereka berada, sehingga semua orang mendukung mereka. Namun setelah bcukup lama bersikap demikian, mereka tidak tahu lagi siapa diri mereka yang sesungguhnya, “warna” asli mereka sebagai individu.
Kebutuhan seseorang yang selalu menginginkan dukungan dari semua orang adalah kebutuhan yang tidak ada menangnya dalam artian kita tidak akan menikmati kebutuhan tersebut. Jika kita dapatkan dukungan seseorang, kita takkan benar-benar dapat menikmatinya karena kita mengubah “warna” untuk mendapatkannya, dan tidak benar-benar menjadi diri sendiri. Namun jika kita membiarkan diri kita apa adanya dan seseorang tidak menyukai kita, kita menjadi cemas dan kacau dalam hati. Maka dalam kondisi tersebut, kita akan kalah terus dan berpikir: “ Bisakah aku mendapatkan dan mempertahankan dukungan orang?”
Dapat kita lihat, bahwa keinginan tersebut sebenarnya merugikan. Bahkan apabila ada orang yang berniat buruk pada kita, maka dengan mudah kita akan dimanfaatkan olehnya. Begitupun dengan “main stream”, tidak semuanya baik, bahkan banyak yang menghanyutkan kita ke arah yang berlawanan dengan kebaikan. Dalam situasi seperti inilah, kita harus menyadari bahwa sebenarnya, ada orang yang pasti tidak akan menyukai kita, siapapun kita atau apapun yang kita perbuat. Fenomena tarik menarik dalam kehidupan ini adalah hal yang wajar. Dunia ini terbentuk dari dua kutub, utara dan selatan, baik dan buruk, laki-laki dan perempuan, Yin-Yang. Semua tergantung kita, akan ke manakah kita melangkah, semua itu ada resikonya.
Ujung-ujungnya, kita harus cukup berani untuk menjadi diri sendiri, menjadi diri kita apa adanya dan membela apa yang kita tahu kebenarannya, apa pun akibatnya, dan membiarkannya jadi urusan orang lain jika mereka tidak suka kepada kita karenanya. Layaknya seekor ikan yang berenang di lautan lepas. Arus kuat tak membuatnya gentar tuk berenang melawan, asinnya air laut tak membuat tubuhnya terasa asin juga. Pertanyaan yang harus kita tanyakan pada diri kita adalah apakah kita sanggup seperti mereka? Dengan seluruh independensi yang mereka miliki?
Masa sie…. Kita kalah ma ikan??
“ WideZ, 25 Desember 2007 “
Selasa, 25 Desember 2007
Kamis, 18 Oktober 2007
senandung masa mudaku
ketika massa masih bergantung pada idealisme. ketika pikiran masih terbuka. ketika mulut belum terbungkam. ketika hati nurani masih mau menerima segala hal yang baik.... senandung ini mulai terdengar
senandung yang jujur dan belum terjamah oleh pikiran2 yang "ditunggangi".
Inilah senandung masa muda yang terdengar dari hati nurani. Apakah kau mendengarnya???
cobalah bersikap jujur.... apabila kau tak bisa maka bukalah hati, mata, dan telingamu. karena jiwa yang murni tak akan pernah tua meski fisik ini telah uzur.
senandung yang jujur dan belum terjamah oleh pikiran2 yang "ditunggangi".
Inilah senandung masa muda yang terdengar dari hati nurani. Apakah kau mendengarnya???
cobalah bersikap jujur.... apabila kau tak bisa maka bukalah hati, mata, dan telingamu. karena jiwa yang murni tak akan pernah tua meski fisik ini telah uzur.
Langganan:
Postingan (Atom)